Download Gratis Kitab Fikih Sunnah Sayyid Sabiq Terjemah Bahasa Indonesia

Download Gratis Kitab Fikih Sunnah Sayyid Sabiq Terjemah Bahasa Indonesia


Kitab Fiqih Sunnah yang ditulis oleh Sayyid Sabiq merupakan salah satu kitab yang mudah dipahami oleh ummat Islam. Kitab fiqih ini berisi sekitar tiga ribu hadis tentang fikih keseharian dan ditulis selama kurang lebih 20 tahun. 


Dengan mempelajari buku ini, kita jadi tahu dalil pergerakan dalam ibadah dan fikih sehingga lebih memantabkan kita dalam beramal, karena beramal dengan tahu dalilnya akan lebih mendalam dan mengena dihati kita. 


Karenanya, buku ini mendapat pengakuan dari seluruh ulama dunia sebagai kitab fikih terbaik di zaman modern ini.

 

Dalam buku terjemahanya, kitab fiqih sunah ini terdiri dari 4 jilid, yaitu :

 

Jilid 1 buku ini mengupas masalah thaharah dan macamnya, shalat wajib dan sunnah, dan sebagian masalah zakat.

Jilid 2 membahas masalah zakat, puasa, jenazah dan hal-hal yang berkaitan dengannya, haji, dan pernikahan.

Jilid 3 membahas hikmah poligami, tentang perkawinan (wali dan kedudukannya, hak dan kewajiban suami-istri, nafkah, akad nikah, walimah, dan sebagainya), serta berbagai hal yang berkaitan dengan hukuman.
 
Jilid 4 terakhir mengupas mulai dari jihad, perang, jizyah, ghanimah, kafarat sumpah, hukum jual-beli, riba, pinjaman, gadai, mudharabah, utang, dan sebagainya.
 

Download Buku Fiqih Sunnah PDF

 

Download Juzz 1
Download Juzz 2
Download Juzz 3
Download Juzz 4
Download Juzz 5
Memperlakukan Istri Layaknya Pembantu Dan Berbuat Kasar Terhadap Istri

Memperlakukan Istri Layaknya Pembantu Dan Berbuat Kasar Terhadap Istri


Hai sobat de-yuan.com, apakabarmu hari ini? kali ini kita akan bahas sesuatu yang simple tapi ini sangat penting bagi kehidupan kita dengan pasangan kita, agar lebih bisa mawaddah wa rahmah, karena kalau ini kita langgar, mawaddah wa rahmah akan lenyap loh.

Nah, sebagai seorang suami, pantas atau bolehkan kita memperlakukan istri kita seperti layaknya pembantu dan sering berbuat kasar tanpa sebab dan alasan?

Tentu pertanyaan ini berdasarkan fakta dari sebuah pernyataan dilayangkan seseorang, inti pertanyaannya seperti ini.
 
'Saya adalah seorang istri yang saat ini sedang diuji Allah berupa seorang suami yang suka berbuat kasar terhadap saya, suka membentak, bahkan terkadang memukul saya. 
 
Dan yang sering membuat saya menangis adalah di saat saya telah kelelahan mengerjakan tugas rumah dan mengurus anak-anak, suami sering memaksa saya untuk sekedar membuat kopi, padahal saya dalam keadaan habis tenaga terasa lemas. 
 
Bila saya menolak maka pasti saya dibentak dengan kasar. Anak-anak pun sering ikut menangis melihat perlakuan bapaknya terhadap saya. Dan saya memohon doanya ustadz agar saya diberi kekuatan menjalani ujian ini.'
 

Nah, yang saya tanyakan: Bolehkah seorang suami memaksakan suatu pekerjaan tanpa mempedulikan keadaan istrinya? (Dari: Indah Permata Dewi).
 
Menyikapi pertanyaan dari Dewi berdasarkan penjelasannya diatas itu, bisa dijelaskan dengan uraian dibawah ini. 

Sebelum masuk ke inti pertanyaan terlebih dahulu saya doakan ibu semoga diberi kekuatan dalam menjalani cobaan hidup, dan semoga suami ibu diberi hidayah agar tak semena-mena berbuat kasar terhadap ibu. Aamiin.

Seharusnya para suami muslim di Indonesia merasa beruntung dan bersyukur karena tugas-tugasnya telah banyak dibantu oleh para istri sebagai pengabdian dan rasa cinta terhadap suaminya. 
 
Adapun perlakuan kasar seorang suami adalah tindakan yang berlebihan dan tak beradab. Jika kejadian ini telah berulang kali maka ibu dapat meminta bantuan ulama untuk menasehati dan mendoakan suami ibu, atau melaporkan kepada pihak berwajib jika tindakan suami menjurus pada kekerasan fisik yang menyebabkan luka atau meninggalkan bekas pukulan pada tubuh ibu. 
 
Dan tindakan terakhir bila keadaan rumah tangga benar-benar tak mampu diperbaiki maka ibu dapat mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama.

Memang adakalanya tindakan pemukulan suami terhadap istri diperbolehkan jika telah nyata istri melakukan pembangkangan yang terlarang terhadap suami. Hal ini difirmankan Allah dalam Al Qur'an:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ  ۖ  فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا  ۗ  إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz (membangkang), hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha tinggi lagi Maha besar". (QS. An Nisaa' : 34).

Sekalipun dalam hal tersebut diperbolehkan bagi seorang suami memukul istrinya, namun Rasulullah mengatur bagaimana pukulan yang dijatuhkan terhadap istri dalam sabdanya:

فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ

"Pukullah mereka dengan pukulan yang tak berbekas". (Shahih Muslim juz 2 hal. 886 no. 1218).

Sedangkan tindakan kasar dan pemukulan suami terhadap istri adalah perkara yang terlarang yang sangat dibenci oleh Rasulullah. Hal ini tertuang dalam haditsnya:

يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ فَيَجْلِدُ امْرَأَتَهُ جَلْدَ العَبْدِ، فَلَعَلَّهُ يُضَاجِعُهَا مِنْ آخِرِ يَوْمِهِ

"Bagaimana mungkin seseseorang diantara kalian sengaja mencambuk isterinya sebagaimana ia mencambuk budaknya, lalu ia menyetubuhinya di sore harinya". (Shahih al Bukhari juz 6 hal. 169 no. 4942).

Dan Rasulullah berpesan kepada para suami muslim agar berlaku lembut dan kasih sayang kepada istrinya, sebab itu merupakan sebagian tanda kesempurnaan iman. Sabda beliau:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُهُمْ خِيَارُهُمْ لِنِسَائِهِمْ

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada isterinya". (Musnad Ahmad juz 12 hal. 364 no. 7402).

Berikut kami sampaikan penjelasan para ulama madzhab Ahlus Sunnah kepada ibu atau para suami muslim agar dipahami dan agar tidak berbuat sesukanya terhadap istri:

1. Madzhab Hanafiyah:
Seandainya suami pulang membawa bahan makanan yang harus dimasak dan diolah, namun istrinya enggan memasak atau mengolahnya maka istri tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membawa makanan yang siap saji.

2. Madzhab Malikiyah:
Wajib atas suami melayani istrinya, walau istrinya memiliki kemampuan untuk berkhidmat (memberikan pelayanan). Bila suami tidak pandai memberikan pelayanan, maka wajib baginya untuk menyediakan pembantu untuk istrinya.

3. Madzhab Syafi'iyah:
Tidak wajib bagi istri membuat roti, memasak, mencuci dan bentuk khidmat (pelayanan) lain untuk suaminya. Karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual, sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban.

4. Madzhab Hanabilah:
Imam Ahmad bin Hanbal menetapkan bahwa seorang istri tidak diwajibkan untuk berkhidmat kepada suaminya, baik berupa membuat adonan, membuat roti, memasak dan yang sejenisnya, termasuk menyapu rumah, menimba air sumur dan menggiling gandum. Karena aqadnya hanya dalam pemanfaatan v*gina, maka suami tidak boleh mengeksploitasi manfaat lain dari istrinya. Tetapi yang lebih utama bagi istri adalah memberikan pelayanan sebagaimana telah menjadi kebiasaan. Karena kebiasaannya keadaan tidak akan bersambung tanpa pelayanan serta kehidupan rumah tangga tidak akan teratur tanpa pelayanan. 

Syeikh al Ma'ruf mewajibkan agar pelayanan antara suami istri seimbang, ini juga sesuai dengan madzhab Malikiyah, dan dikatakan pula oleh Imam Abu Bakar bin Syaibah dan Abu Ishaq al Jauzajaniy, mereka berhujjah dengan perkara Ali bin Abi Thalib dan Fathimah. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan terhadap putrinya Fathimah agar melakukan pekerjaan rumah, dan bagi Ali pekerjaan di luar rumah.

Demikianlah dalil nash dan uraian para ulama kami hadirkan, penting kiranya untuk diketahui para suami muslim agar tidak berbuat sesuatu yang melampaui batas kemampuan istrinya. Wallahu a'lam.
(Dijawab oleh: Al Murtadho). 

Referensi:
Badai' ash Shanai' juz 4 hal. 12
 ولو جاء الزوج بطعام يحتاج إلى الطبخ والخبز فأبت المرأة الطبخ والخبز يعني بأن تطبخ وتخبز لما روي أن رسول الله  صلى الله عليه وسلم  قسم الأعمال بين علي وفاطمة رضي الله عنهما  فجعل أعمال الخارج على علي وأعمال الداخل على فاطمة رضي الله عنهما، ولكنها لا تجبر على ذلك إن أبت، ويؤمر الزوج أن يأتي لها بطعام مهيأ
Syarh al Kabir lid Dardir juz 2 hal. 510
ويجب عليه (إخدام أهله) أي أهل الإخدام بأن يكون الزوج ذا سعة، وهي ذات قدر ليس شأنها الخدمة، أو هو ذا قدر تزري خدمة زوجته به فإنها أهل للإخدام بهذا المعنى فيجب عليه أن يأتي لها بخادم
Al Muhadzab lisy Syairaziy juz 2 hal. 482
ولا يجب عليها خدمته في الخبز والطحن والطبخ والغسل وغيرها من الخدم لأن المعقود عليها من جهتها هو الاستمتاع فلا يلزمها ما سواه
Kasyaf al Qana' juz 5 hal. 195
وليس) واجبا (عليها خدمة زوجها في عجن وخبز ونحوه) ككنس الدار وملء الماء من البئر وطحن (نص عليه أحمد) لأن المعقود عليه منفعة البضع، فلا يملك غيره من منافعها (لكن الأولى لها فعل ما جرت العادة بقيامها به) لأنه العادة ولا يصل الحال إلا به ولا تنتظم المعيشة بدونه (وأوجب الشيخ المعروف من مثلها لمثله) وفاقا للمالكية، وقاله أبو بكر بن شيبة وأبو إسحاق الجوزاجاني واحتجا بقضية علي وفاطمة: فإن النبي صلى الله عليه وسلم قضى على ابنته فاطمة بخدمة البيت، وعلي ما كان خارجا من البيت من عمل رواه الجوزجاني من طرق
fikih kontemporer
Download Kitab Terjemah Bahasa Indonesia Bulughul Marom PDF

Download Kitab Terjemah Bahasa Indonesia Bulughul Marom PDF

Bulughul Maram atau Bulugh al-Maram min Adillat al-Ahkam, disusun oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (773 H - 852 H). 

Kitab ini merupakan kitab hadits tematik yang memuat hadits-hadits yang dijadikan sumber pengambilan hukum fikih (istinbath) oleh para ahli fikih. 

Kitab ini menjadi rujukan utama khususnya bagi fikih dari Mazhab Syafi'i. Kitab ini termasuk kitab fikih yang menerima pengakuan global dan juga banyak diterjemahkan di seluruh dunia.
Kitab Bulughul Maram memuat hampir 1600 buah hadits. Di setiap akhir hadits yang dimuat dalam Bulughul Maram, Ibnu Hajar menyebutkan siapa perawi hadits asalnya. 

Bulughul Maram memasukkan hadits-hadits yang berasal dari sumber-sumber utama seperti Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa'i, Sunan Ibnu Majah, dan Musnad Ahmad dan selainnya.

Kitab Bulughul Maram memiliki keutamaan yang istimewa karena seluruh hadits yang termuat di dalamnya kemudian menjadi pondasi landasan fikih dalam mazhab Syafi'i. 

Selain menyebutkan asal muasal hadits-hadits yang termuat di dalamnya, penyusun juga memasukkan perbandingan antara beberapa riwayat hadits lainnya yang datang dari jalur yang lain. 

Karena keistimewaannya ini, Bulughul Maram hingga kini tetap menjadi kitab rujukan hadits yang dipakai secara luas tanpa mempedulikan mazhab fikihnya.

Pakaian Wanita yang menyapu Tanah

Pakaian Wanita yang menyapu Tanah

Hai sobat de-yuan.com, apa kabarmu hari ini, aku berdoa kalian pembaca kami akan tetap baik b aik saja. yuk kali ini kita bahas terkait pakaian wanita yang menyapu tanah.

عن سليمان بن يسار عن أم سلمة قالت سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم كم تجر المرأة من ذيلها قال شبرا قلت إذا ينكشف عنها قال ذراع لا تزيد عليه
 
 
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan mengenai bagian bawah pakaian, Ummu
Salamah radhiyallahu ‘anha berkata kepada Rasulullah, “Lalu bagaimana dengan pakaian seorang wanita wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Hendaklah ia mengulurkannya satu jengkal,” Ummu Salamah berkata, ‘Jika demikian masih tersingkap ” Satu hasta saja dan jangan lebih dari itu,” jawab beliau. (HR. At Tirmidzi. Hadits hasan shahih)

Dari seorang ibu putra Ibrahim bin Abdurrahman bin ‘Auf bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya aku adalah seorang perempuan yang biasa memanjangkan (ukuran) pakaianku dan (kadang-kadang) aku berjalan di tempat kotor?’ maka Jawab Ummu Salamah, bahwa Nabi pernah bersabda, “Tanah selanjutnya menjadi pembersihnya.” (HR. Ibnu Majah, Imam Malik dan Tirmidzi. Hadits shahih)

KAJIAN KITAB: FUTUHUL GHAIB (BAGIAN 75)

KAJIAN KITAB: FUTUHUL GHAIB (BAGIAN 75)

[Menyingkap Rahasia Ilahi] Mutiara karya : Syeikh Abdul Qodir Al-Jailany ra

RISALAH KE-75
Aku memberi nasehat kepada kamu agar kamu takut dan patuh kepada Allah. Turutilah hukum-hukum Allah dan bersihkanlah hatimu.  Kontrollah dirimu, relalah dengan Tuhanmu, tolonglah orang miskin dan  orang yang sedang dalam kesusahan, jagalah kesucian orang-orang  kerohanian, berbuat baiklah kepada seluruh anggota masyarakat,  nasehatilah para kaula muda, hindarilah permusuhan dengan rekan dan  teman, janganlah suka menimbun harta benda, hindarkanlah dirimu dari  berkawan dengan orang-orang yang bukan golongan yang menuju jalan  kerohanian dan dari menolong mereka di dalam perkara dunia dan agama.

Menurut agama, hakekat kemiskinan itu ialah kamu tidak lagi memerlukan apa-apa dari orang lain yang seperti kamu juga,  sedangkan kekayaan ialah kamu berada melampaui garis keperluan mahluk seperti kamu juga. Tasauf bisa didapati bukan melalui permbicaraan atau percakapan,  melainkan melalui lapar dahaga dan menjauhkan diri dari apa yang kamu  sukai.  Janganlah kamu menonjolkan kepandaianmu di hadapan  darwisy, tapi hendaklah kamu bersikap lemah lembut. Karena, jika kamu  menonjolkan kepandaianmu, maka dia tidak akan merasa senang. Dia akan  senang jika kamu bersikap lemah lembut.

Tasauf itu berdasarkan delapan sifat (kualitas) :
1. Bermurah hati seperti Nabi Ibrahim
2. Menyerah dengan suka rela seperti Nabi Ishaq
3. Bersabar seperti Nabi Ya’qub
4. Shalat seperti Nabi Zakaria
5. Miskin seperti Nabi Yahya
6. Memakai pakaian bulu seperti Nabi Musa
7. Mengembara seperti Nabi Isa
8. Beragama seperti Nabi Muhammad SAW
 dan seluruh para Nabi dan Rosul, dan semua keluarga dan sahabatnya. Semoga keselamatan tercurahkan atas mereka seluruhnya.

 المقالة الخامسة والسبعون  فـي الـتـصـوف و عـلـى أي شــئ مـبـنـاه
 قـال رضـي الله تـعـالـى عـنـه و أرضـاه : أوصـيـك بـتـقوى الله  وطـاعـتـه، و لـزوم ظـاهـر الـشــرع و ســلامـة الـصـدر، و ســخـاء  الـنـفـس، و بـشــاشــة الـوجـه، و بـدل الـنـدى، و كـف الأذى، و تـحـمـل  الأذى و الـفـقـر، و حـفـظ حـرمـات الـمـشــايـخ و الـعـشــرة مـع  الإخـوان، و الـنـصـيـحـة لـلأصـاغـر و الأكـابـر، و تـرك الـخـصـومـة، و  الإرفـاق، و مـلازمـة الإيـثـار و مـجـانـبـة الادخار، و تـرك صـحـبـة مـن  لـيـس مـن طـبـقـتـهـم، و الـمـعـاونـة في أمـر الـديـن و الـدنـيـا.
و حـقـيـقـة الـفـقـر أن لا تـفـتـقـر عـلـى مـن هـو مـثـلـك و حـقـيـقـة الـغـنـى أن تستغني عـمـن هـو مـثـلـك.
 و الـتـصـوف لـيـس أخـذ عـن الـقـيـل و الـقـال و لـكـن أخـذ عـن الـجـوع و  قـطـع الـمـألـوفـات و الـمـســتـحـســنـات، و لا تبدءا الـفـقـيـر  بـالـعـلـم و إبـدائـه بـالـرفـق، فـإن الـعـلـم يـوحـشــه و الـرفـق  يـؤنـســه.
و الـتـصـوف مـبـنـي عـلـى ثــمــان خــصـال :
الــســـــــخــــاء لـســـــيــدنــا لإبـــراهــــــيــــم عــــلــــيــــه الـــســــــلام
الـــــرضـــــــا لـســـــيــدنــا لإســــــــحـــــاق عــــلــــيــــه الـــســــــلام
الـــصــــــبــــر لـســـــيــدنــا لأيــــــــــــــــوب عــــلــــيــــه الـــســــــلام
الإشــــــــــــارة لـســـــيــدنــا لــــزكــــــريـــــا عــــلــــيــــه الـــســــــلام
الـــغــــــربـــــة لـســـــيــدنــا لـــيــــحـــــيــــى عــــلــــيــــه الـــســــــلام
الــتـــصـــــوف لـســـــيــدنــا لـــمــــوســـــــى عــــلــــيــــه الـــســــــلام
الــســــيـــاحـــة لـســـــيــدنــا لـــعــــيــــســــى عــــلــــيــــه الـــســــــلام
الـــفــــــقـــــــر لـســـــيــدنــا لـسـيـدنـا مــحـمــد صـلـى الله عـلـيـه و سـلـم
و عـلى إخـوانـه مـن الـنـبـيـيـن و الـمـرســلـيـن و آل كـل و صـحـب كـل و ســلـم أجـمـعـيـن   و الله أعلم.

LINK ASAL:
www.fb.com/notes/1353827437973394

www.fb.com/groups/piss.ktb/1282339151788890/
KAJIAN KITAB: FUTUHUL GHAIB (BAGIAN 74)

KAJIAN KITAB: FUTUHUL GHAIB (BAGIAN 74)

[Menyingkap Rahasia Ilahi] Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Al-Jailany ra

RISALAH KE-74
Masalah pertama yang patut diperhatikan oleh  orang yang berakal ialah keadaan dan suasana dirinya sendiri, setelah  itu barulah ia melihat atau memperhatikan seluruh mahluk dan ciptaan.  Dari semua itu, dapatlah diketahui di mana sumber semua itu dan siapa  yang mencipta semua itu. Sebab, mahluk itu adalah tanda Al Khaliq (yang  mencipta), tanda yang menunjukkan kekuasaan Yang Maha Gagah dan  menunjukkan bahwa yang menciptakan itu tentu Maha Bijaksana.

Adanya mahluk menunjukkan adanya Al Khaliq, karena semua mahluk itu ada lantaran Dia menciptakannya. Inilah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra dalam ulasannya tentang  firman Allah, “Dan Dia jadikan untukmu segala yang di langit dan di  bumi.”

Diriwayatkan bahwa ulasan ayat tersebut ialah sebagai berikut :  Dalam setiap sesuatu itu ada satu sifat di antara sifat-sifat Allah dan  dalam setiap nama itu terdapat satu tanda untuk salah satu diantara  nama-nama-Nya.

Dengan demikian, kamu pasti berada dalam salah satu di antara nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Batin-Nya melalui kuasa-Nya dan zhahir-Nya melalui kebijaksanaan-Nya.  Dia tampak di dalam sifat-sifat-Nya dan terpelihara diri-Nya. Diri-Nya  terpelihara di dalam sifat-sifat-Nya dan sifat-sifat-Nya terpelihara di  dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Dia menampakkan ilmu-Nya melalui  iradat-Nya dan Dia menyatakan iradat-Nya di dalam gerak-Nya. Dia  menyembunyikan kemahiran dan kebijaksanaan-Nya, dan menyatakan kemahiran  dan kebijaksanaan-Nya melalui iradat-Nya.

Maka, Dia bersembunyi di dalam ghaib-Nya dan tampak di dalam kebijaksanaan dan kekuasaan-Nya. Firman Allah, “… tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS 42:11).

Sesungguhnya banyak rahasia-rahasia ilmu kerohanian di dalam kenyataan  ini yang tidak diketahui oleh orang-orang yang hatinya tidak mempunyai  sinar kerohanian.

Ibnu Abbas mendapatkan ilmu itu karena doa Nabi Muhammad SAW untuknya. Nabi mendoakannya :  “Ya Allah, berilah ia pengetahuan tentang agama dan ajarlah ia pengertian tentang Al Qur’an.”

Semoga Allah melimpahkan karunia seperti ini kepada kita semua dan  memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang diberi rahmat oleh  Allah di hari pembangkitan kelak.

المقالة الرابعة والسبعون  فـيـمـا يـنـبـغـي لـلـعـاقـل أن يـســتـدل بـه  عـلـى وحـدانـيـة الله تـعـالـى
 قـال رضـي الله تـعـالى عـنـه و أرضـاه : أول ماينظر العاقل في صفة نفسه و  تركيبه ثم في جميع المخلوقات و المبدعات فيستدل بذلك على خالقها و بمدعها،  لأن فيه دلالة على الصانع و في القدرة المحكمة آية على الحكيم، فإن  الأشياء كلها موجودة به.
و في مـعـنـاه ما ذكر عن ابن عباس رضي الله  عنهما في تفسير قوله تعالى : وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا  فِي الارْضِ جَمِيعاً مِّنْهُ.الجاثية١٣. فقال في كل شئ اسم من أسمائه و  اسم كل شئ من اسمه، فإنما أنت بين أسمائه و صفاته و أفعاله، باطن بقدرته و  ظاهر بحكمته، ظهر بصفاته و بطن بذاته حجب الذات بالصفات و حجب الصفات  بالأفعال، و كشف العلم بالإرادة و أظهر الإرادة بالحركات، و أخفى الصنع و  الصنيعة و أظهر الصنعة بالإرادة، فهو باطن في غيبه و ظاهر في حكمته و قدرته  لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ.الشورى ١١.
و  لـقـد أظـهـر في هذا الكلام من أسرار المعرفة ما لا يظهر إلا من مشكاة فيها  مصباح، أمره برفع يد العصمة اللهم فقهه في الدين و علمه التأويل، أنالنا  الله تعالى بركاتهم و حشرنا في زمرتهم و حرمتهم آمين. و الله أعلم.

LINK ASAL:
www.fb.com/notes/1349961095026695

www.fb.com/groups/piss.ktb/1281673338522138
Nabi Isa AS Akan Di Makamkan Di Samping Makam Nabi Muhammad SAW ?

Nabi Isa AS Akan Di Makamkan Di Samping Makam Nabi Muhammad SAW ?

Bismillhir rahmaanir rahiim
Mengapa makam sahabat Abi Bakr dan sahabat Umar radhiyallahu 'anhuma  berada di samping makam Nabi Muhammad shallAllahu 'alaihi wasallama ? Karena (thiynah) tanah dimana mereka diciptakan, adalah tanah yang sama dari tempat yang sama. Dan menurut satu riwayat, bukan hanya mereka bertiga, namun kelak di  akhir zaman Nabi Isa pun akan di makamkan disamping makam Rosulillah,  Abi bakr dan Umar.

- Tadzkiroh Imam qurthuby , hal 26-27 Sebuah hadits yang di riwayatkan oleh al-Daylami :

ما من مولود الا وينثر على سرته من تراب حفرته "
Tidak ada seorangpun yang dilahirkan kecuali ditaburkan debu lubang galian (kubur) pada pusarnya.

منقبة عظيمة لابى بكر وعمر رضي الله تعالى عنهما، لان طينتهما من طينة رسول الله صلى الله عليه وسلم.
Lubang (kubur) yang agung bagi sahabat Abi Bakr dan sahabat Umar  radhiyallahu 'anhuma, karena tanah (asal diciptakan) keduanya merupakan  bagian dari tanah Rosulillah SAW.

وكان محمد بن سيرين رضي الله  تعالى يقول : لو انى حلفت لحلفت صادقا بارا غير شاك ان الله ما خلق محمدا  نبيه وابا بكر وعمر رضي الله تعالى عنهما الا من طينة واحدة ثم ردهم الى  تلك الطينة انتهى.
Berkata Muhammad bin Sirin : "Jika aku harus  bersumpah, maka aku akan bersumpah untuk membenarkan, dan tanpa ada  keraguan sedikitpun, [bahwa tiada Allah ciptakan Muhammad SAW sebagai  nabi-Nya, dan Abu Bakr serta Umar, kecuali dari satu jenis tanah,  kemudian Allah kembalikan (jasad) mereka pada (asal) tanah tersebut]."

 قال القرطبى رحمه الله : وممن خلق من تلك الطينة ايضا عيسى بن مريم عليهما  الصلاة والسلام لما صح فى الحديث انه يدفن عند قبر النبى صلى الله عليه  وسلم اذا نزل آخر الزمان، والحمد لله رب العالمين
Seorang ahli  tafsir kenamaan, yaitu Imam Qurthuby berkata : "Dan sebagian orang yang  diciptakan dari tanah tersebut adalah Nabi Isa bin Maryam 'alayhimas  salam, karena ada hadits shohih yang menyebutkan ["bahwa Nabi Isa akan  dimakamkan disamping makam Nabi Muhammad SAW, ketika kelak turun di  akhir zaman. Segala puji bagi Allah penguasa, pemilik, pengurus seluruh  alam.

- Jami'ul Masaanidi wal Maroosili - as Suyuthi :

   قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلّم: «مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ  وَيُنْثَرُ عَلَيْهِ مِنْ تُرَابِ سُرَّتِهِ» أَبو نصر حاجي بن الْحسين في  حزبِه والرَّافعي عن أَبي هُرَيْرَةَ رضَي اللَّهُ عنهُ.

- Al Tadwinu fii Akhbari Qozwin - al Khotib Qozwini :

ميسرة بن إسماعيل أبو السرى، سمع أبا الفتح الراشدي.
 ميسرة بن جعفر بن ميسرة الصوفي أبو الهيجاء نزيل مكة حدث عنه أبو نصر حاجي  بن الحسين في بعض أجزائه، قال أنبأ أبو الفضل أحمد ابن أبي عمران الهروي  بمكة، ثنا أبو القاسم عمر بن يحيى بن داؤد الفحام ثنا أحمد بن الحسن، ثنا  أبو عاصم النبيل، ثنا ابن عون، عن محمد بن سيرين، عن أبي هريرة رضي الله  عنه قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: ما من مولود إلا وينثر عليه من  تراب حضرته.
قال أبو عاصم فلم نجد لأبي بكر وعمر رضي الله عنهما فضيلة  أفضل من هذه لأنهما من طينة النبي صلى الله عليه وآله وسلم. وميسرة بن  جعفر الذي قدم قزوين وحدث بها سنة أربع وأربعمائة، وروى القاضي أبو الحسن  علي بن هلة عنه، قال ثنا أحمد بن محمد، ثنا يوسف بن القاسم بدمشق، ثنا عبد  الله بن زيدان ثنا أبو كريب ثنا عبيد بن حساب ثنا مسعر ابن كدام، عن عبد  الملك بن ميسرة، عن النزال بن سبرة، عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال  خير هذه الأمة بعد نبيها أبو بكر ثم عمر رضي الله عنهما هو هو والله أعلم.

Wallahu a'lam. [santrialit]

http://arh789.blogspot.co.id/2016/10/nabi-isa-akan-di-makamkan-di-samping.html
BOLEHKAH NON MUSLIM MENZIARAHI MAKAM MUSLIM ?

BOLEHKAH NON MUSLIM MENZIARAHI MAKAM MUSLIM ?

PERTANYAAN :

Assalamu'alaikum. Apa hukumnya orang non muslim mendatangi kuburan wong islam? Jika boleh, apa kebolehan di sini termasuk ke makam para auliya? Soalnya ada pengalaman 2 bulan lalu, teman seperjalanan saya (kebetulan non muslim) ikut dengan saya berkunjung ke makam sunan ampel surabaya.. [Zae AbJal].

JAWABAN :

Hukumnya boleh. Orang kafir tidak dicegah menziarahi kerabatnya yang muslim, baik muslimnya masih hidup maupun yang sudah meninggal, karena tidak adanya larangan. Kebolehan di sini termasuk menziarahi ke makam para auliya.

- kitab al furu' (2/299) :

وَلَا يُمْنَعُ الْكَافِرُ زِيَارَةَ قَرِيبِهِ الْمُسْلِمِ ، وَيَقِفُ الزَّائِرُ أَمَامَ الْقَبْرِ

Orang kafir tidak dicegah menziarahi kuburan kerabatnya yang islam, dan peziarah berdiri di depan kuburan.

- kitab syarah muntahal irodat :

( ولا يمنع كافر زيارة قبر قريبه المسلم )  كعكسه

Orang kafir tidak dicegah menziarahi kuburan kerabatnya yang muslim, sebagaimana sebaliknya.

- kitab kasyaful qina' :

( ولا يمنع كافر من زيارة قريبه المسلم )   حيا كان أو ميتا ، لعدم المحظور .

Orang kafir tidak dicegah menziarahi kerabatnya yang muslim, baik muslimnya masih hidup maupun sudah meninggal, karena tidak adanya larangan. Wallohu a'lam. [Nur Hamzah].

LINK ASAL :

www.fb.com/groups/piss.ktb/1306657056023766
KAJIAN KITAB FUTUHUL GHAIB (BAGIAN 73)

KAJIAN KITAB FUTUHUL GHAIB (BAGIAN 73)

[Menyingkap Rahasia Ilahi] Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Al-Jailany ra

RISALAH KE-73
Kadang Allah memberitahu para wali-Nya, tentang  kesalahan-kesalahan dan kepalsuan orang, dan pernyataan-pernyataan  palsunya tentang tindakan, kata, fikiran dan tujuannya.  Para waliullah dibuat amat cemburu akan Tuhannya, Nabi-Nya dan  agama-Nya. Kemarahan batiniah dan kemarahan lahiriah terpacu oleh  fikirannya.  Bagaimana bisa senang, bila mempunyai penyakit dalam  dan luar. Bagaimana bisa beriman akan keEsaan Tuhan, bila  berkencederungan kesyirikan manusia dari-Nya dan bila masih berpihak  kepada musuh, si setan yang terkutuk, dan si munafik yang kelak  dicampakkan ke dasar neraka dan tinggal untuk selamanya?  

Menyebut kesalahan-kesalahan seperti itu, tindakan-tindakan kejinya dan  pengakuannya sebagai shiddiq, keberasingannya dengan mereka yang telah  meluruhkan diri ke dalam takdir, terluncur dari lidah sang wali. Kadang dikeranakan kecemburuan akan keagungan Tuhan Yang Maha kuasa lagi Maha agung. Kadang kerana menolak orang palsu seperti itu, dan sebagai teguran baginya; kadang kerana Kemaha kuasaan kehendak dan kemurkaannya terhadap orang palsu yang mendustakan para wali.

Para wali mengutuk pengumpatan terhadap orang semacam itu, dan "bolehkah para wali mengumpat seseorang? Bisakah mereka memerhatikan seseorang, tak hadir atau hadir, dan  hal-hal yang asing bagi orang-orang yang berkedudukan? Pengutukan  semacam itu, dari mereka, tak melebihi firman Allah :  "Dosa keduanya lebih besar daripada manfaat keduanya" (QS. 2:219).

Wajib baginya berdiam diri dalam keadaan-keadaan semacam itu, tunduk  dan berupaya mendapatkan keabsahan-Nya, tak berkeberatan terhadap  kehendak-Nya dan wali-Nya yang mencerca pernyataan-pernyataan si palsu. Jika ia bersikap demikian, maka ia mampu mencabut akar-akar kekejian  dari dirinya dan dipandang sebagai kembalinya dari kejahilian dan  kebiadabannya.

Hal itu bagai serangan atas nama sang wali, dan  juga menguntungkan si pongah yang berada di tepi jurang kehancuran,  kerana kepongahan dan ketakpatuhannya. Dan Allah menunjuki yang  dikehendaki-Nya kepada jalan kebenaran. Wallohu a'lam.

 المقالة الثالثة والسبعون  فـي قـســم مـن الأولـيـاء قـد يـطـلـعـه الله عـلـى عـيـوب غـيـرهـم
 قـال رضـي الله تـعـالى عـنـه و أرضـاه : قد يُطلع الله تعالى وليه على  عيوب غيره و كذبه و دعوته و شركه في أفعاله و أقواله و إضماره و نيته،  فيغار ولى الله لربه و لرسوله و دينه فيشتد غضب باطنه ثم ظاهره حاضراً و  غائباً، كيف يدعى السلامة مع العلل و الأوجاع الباطنة والظاهرة؟؟ و كيف  يدعى التوحيد مع الشرك، و الشرك كفر و بعد عن قرب الله و هو صفة العدو و  الشيطان اللعين، و المنافقين المقطوع لهم بالدرك الأسفل من النار و الخلود  فيها فيجرى على لسان الولي ذكر عيوبه و أفعاله الخبيثة و وقاحته بعريض  دعاويه أحوال الصديقين و مزاحمته للفانين في قدر الله و فعله،و المراد من  على وجه الغيرة لله عزّ و جلّ، مرة على وجه الإنكار له و الموعظة له أخرى، و  على وجه الغلبة بفعل الله عزّ و جلّ و إرادته و شدة غضبه على الكذب أخرى  فيضاف إلى الله عزّ و جلّ غيبة، فيقال أيغتاب الولي و هو يمنع منها أو يذكر  الغائب و الحاضر بما يظهر عند الخواص و العوام؟؟ فيصير ذلك الإنكار في  حقهم كما قال الله عزّ و جلّ : }وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن  نَّفْعِهِمَا{.البقرة٢١٩. في الظاهر إنكار المنكر و في الباطن إسخاط الربّ و  الاعتراض عليه فيصير حاله الخيرة، فيكون فرضه فيها السكوت و التسليم و طلب  المساعي لذلك في الشرع، و الجواز لا الاعتراض على الربّ و الولي يطعنان  لافترائه و كذبه، و قد يكون ذلك سبباً لإقلاعه و توبته و رجوعه عن جهله و  حيرته، فيكون كرهاً للولي نفعاً للمغرور الهالك بغروره و رعونته. }وَاللّهُ  يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ{. البقرة٢١٣ .النور٤٦.   و الله أعلم.

LINK ASAL:
www.fb.com/notes/1347980691891402

www.fb.com/groups/piss.ktb/1280614801961325/
KAJIAN KITAB FUTUHUL GHAIB (BAGIAN 72)

KAJIAN KITAB FUTUHUL GHAIB (BAGIAN 72)

[Menyingkap Rahasia Ilahi] Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Al-Jailany ra

RISALAH KE-72
Orang-orang yang beragama Islam yang pergi  ke pasar dengan mematuhi kehendak agama, melakukan perintah Allah  seperti pergi melakukan shalat Jum’at atau upacara-upacara keagamaan  lainnya atau untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, terdiri atas  pelbagai jenis. Ada  sebagian mereka yang apabila pergi ke pasar itu melihat barang-barang  yang dijual di situ untuk mengisi perut dan memuaskan seleranya,  terpengaruh oleh barang-barang itu dan hati mereka terikat dengannya,  sehingga mereka masuk ke dalam suatu ujian.  Hal ini mungkin dapat  menjatuhkan dirinya dan merobohkan agamanya, lalu ia dipengaruhi oleh  hawa nafsu kebinatangan, kecuali jika Allah memelihara mereka dengan  rahmat-Nya dan perlindungan-Nya serta memberi mereka kesabaran dan  kekuatan untuk menghadapi tarikan hawa nafsu itu. Hanya dengan  pertolongan Allah sajalah mereka dapat selamat.

Ada pula sebagian  mereka yang apabila telah menyadari bahwa mereka itu hampir tergelincir  masuk ke lembah kemurkaan Allah, mereka lekas kembali masuk ke pangkuan  agama dan mengontrol diri mereka agar tidak terjerumus. Mereka ini  ibarat pahlawan yang menegakkan agama dan ditolong oleh Allah untuk  mengontrol diri mereka agar tidak dijajah oleh hawa nafsu yang rendah  itu. Allah akan memberikan ganjaran kepada mereka di akhirat kelak.

Nabi pernah bersabda :  “Tujuhpuluh perbuatan baik akan dicatatkan untuk orang mu’min, apabila  ia membuang kehendak hawa nafsunya ketika ia dikuasai oleh hawa nafsu  itu atau apabila ia dapat menguasainya.” Beliau bersabda pula :  “Dan sebagian dari mereka ada yang mendapatkan kenikmatan ini, yang  berupa kekayaan harta benda dunia, dan menggunakannya dengan karunia dan  kehendak Allah, dan mereka bersyukur kepada Allah karena mendapatkan  karunia itu.”

Ada pula di antara mereka yang tidak melihat atau  tidak menyadari kenikmatan yang ada di pasar. Mereka buta terhadap  selain Allah.  Mereka hanya mengetahui Allah saja. Mata mereka  buta terhadap yang lain dan telinga mereka pun tuli terhadap yang lain.  Mereka sibuk dengan Allah, sehingga mereka lupa kepada yang lain. Mereka  ini jauh dari dunia dan kesibukannya.  Apabila kamu bertanya  kepada orang semacam ini di pasar tentang apa yang mereka lihat, maka  orang ini akan menjawab, “Kami tidak melihat apa-apa.”

Memang  mereka melihat barang-barang di pasar dengan mata kepala mereka, tetapi  mereka tidak melihatnya dengan mata batin mereka. Mereka hanya melulu  melihat, mereka tidak melihatnya dengan keinginan hawa nafsu yang  rendah. Pandangan itu jatuh kepada rupa lahirnya saja dan bukan pada  hakekatnya. Pandangan itu adalah lahiriah dan bukan batiniah.   Pada lahirnya, memang mereka melihat barang-barang dan benda-benda itu  di pasar, tetapi di dalam mata hati mereka, apa yang mereka lihat  hanyalah Allah.

Kadang-kadang tampak dengan sifat keagungan-Nya (Jalal)  dan kadang-kadang pula tampak dengan sifat kelemah-lembutan-Nya dan  keindahan-Nya (Jamal). Ada pula di antara mereka yang apabila  masuk ke pasar, hati mereka penuh dengan Allah Yang Maha Agung lagi Maha  Indah, mereka mengasihi orang-orang yang ada di situ.  Oleh karena  perasaan kasih sayang mereka ini, maka pandangan mereka tidak langsung  tertumpu kepada barang-barang milik orang-orang pasar dan barang-barang  yang ada di hadapan mereka. Sejak memasuki pasar sampai keluar lagi  darinya, orang-orang ini tetap berada di dalam shalat atau hubungan  dengan Allah, mereka memohon perlindungan Allah dan mendoakan penghuni  pasar dengan rasa kasih sayang. Hati mereka memohon kepada Allah supaya  penghuni pasar itu diberi kebajikan dan dijauhkan dari kedurjanaan.  Mereka tiada henti-hentinya memuji Allah atas karunia dan nikmat yang  dilimpahkan kepada mereka.  Orang-orang semacam ini dijuluki  pengawal kerohanian untuk suatu pasar, bandar dan hamba-hamba Allah.  Bisa juga kamu menjuluki mereka sebagai orang-orang yang memiliki ilmu  ma’rifat, para Abdal, orang-orang wara’, orang-orang yang mengetahui  perkara nyata dan perkara ghaib, orang-orang yang dicintai Allah, tujuan  terakhir dari Allah, khalifah Allah di atas muka bumi, duta Allah,  orang-orang yang menjalankan kebaikan dan kenyataan yang manis,  orang-orang yang mendapatkan bimbingan ke jalan yang lurus dan benar,  dan pembimbing rohani. Inilah kekasih Allah.

Semoga Allah  melimpahkan rahmat dan hikmat-Nya kepada orang-orang semacam ini dan  siapa saja yang menghadapkan wajahnya kepada Allah serta kepada mereka  yang mencapai puncak ketinggian kerohanian. Wallohu a'lam.

المقالة الثانية والسبعون  فـي مـن إذا دخـل الأســواق و مـال إلـى مـا فـيـهـا  و مـن إذا دخـلـهـا و صـبـر
 قـال رضـي الله تـعـالى عـنـه و أرضـاه : الذين دخلون الأسواق من أهل  الدين و النسك في خروجهم إلى أداء ما أمر الله تعالى من صلاة الجمعة و  الجماعة و قضاء حوائج تسنح لهم على أضرب : مــنــهــم من إذا دخل السوق و  رأى فيه من أنواع الشهوات و اللذات تقيد بهما و علقت بقلبه فتن، و كان ذلك  سبب هلاكه و تركه دينه و نسكه و رجوعه إلى موافقة طبعه و إتباع هواه إلا أن  يتداركه عزّ و جلّ برحمته و عصمته و إصباره إياه عنها فتسلم.
و  مــنــهــم من إذا رأى ذلك كاد أن يهلك بها رجع إلى عقله و دينه و تصبر و  تجرع مرارة تركها، فهو كالمجاهد ينصره الله تعالى على نفسه و طبعه و هواه، و  يكتب له الثواب الجزيل في الآخرة. كما جاء في بعض الأخبار عن النبي صلى  الله عليه و سلم أنه قال : ( يكتب للمؤمنين بترك شهوة عند العجز عنها أو  عند المقدرة سبعون حسنة ) أو كما قال.
 و مــنــهــم من يتناولها و  يتلبس بها و يحصلها بفضل نعمة الله عزّ و جلّ التي عنده من سعة الدنيا و  المال، و يشكر الله عزّ و جلّ عليها.
 و مــنــهــم من لا يراها و لا  يشعر بها، فهو أعمى عن ما سوى الله عزّ و جلّ، فلا يرى غيره، و أصم عما  سواه فلا يسمع من غيره، عنده شغل عن النظر إلى غير محبوبه و اشتهائه، فهو  في معزل عما العالم فيه فإذا رايته و قد دخل السوق فسألته عما رأى في السوق  يقول ما رأيت شيئاً. نعم قد رأى الأشياء لكن قدر رآها ببصر رأسه لا ببصر  قلبه، و نظرة فجاءت لا نظرة شهوة، نظر صورة لا نظر معنى، نظر الظاهر لا نظر  الباطن، فبظاهره ينظر إلى ما في السوق و بقلبه ينظر إلى ربه عزّ و جلّ،  إلى جلاله تارة و إلى جماله تارة أخرى.
و مــنــهــم من إذا دخل السوق  امتلأ قلبه بالله عزّ و جلّ رحمة لهم، فتشغله الرحمة لهم عن النظر إلى ما  لهم و بين أيديهم فهو في حين دخوله إلى حين خروجه في الدعاء و الاستغفار و  الشفاعة لأهله و الشفقة و الرحمة عليهم و لهم، و عينه مغرورقة و لسانه في  ثناء و حمد لله عزّ و جلّ بما أولى الكافة من نعمه و فضله فهذا يسمى شحنة  البلاد و العباد، و إن شئت سميته عارفاً و بدلاً و زاهداً و عالماً غيباً و  بدلاً محبوباً مراداً و نائباً في الأرض على عباده، و سفيراً و جهبذاً و  نفاذا و هادياً و مهدياً و دالاً و مرشداً فهذا هو الكبريت الأحمر و بيضة  العقعق، رضوان الله عليه و على كل مؤمن مريد لله وصل إلى انتهاء المقام، و  الله الهادي.   و الله أعلم.

LINK ASAL:
www.fb.com/notes/1347278421961629

www.fb.com/groups/piss.ktb/1279864452036360/
KAJIAN KITAB FUTUHUL GHAIB (BAGIAN 71)

KAJIAN KITAB FUTUHUL GHAIB (BAGIAN 71)

[Menyingkap Rahasia Ilahi] Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Al-Jailany ra

RISALAH KE-71
Kamu termasuk dalam salah satu dari dua perkara ini, pencari atau yang dicari. Jika kamu menjadi murid, maka kamu adalah pencari. Tetapi, jika kamu seorang guru, maka kamu adalah orang yang dicari. Jika kamu menjadi pencari, yaitu murid, maka kamu akan menanggung beban yang berat dan memayahkan. Kamu akan terpaksa bekerja keras untuk mencapai tujuan yang kamu idamkan itu.  Tidak pantas kamu lari dari kesusahan yang menimpa dirimu, yang berupa  kesusahan hidup, harta benda, keluarga dan sanak saudaramu.  Pada  akhirnya, beban yang kamu tanggung itupun akan diringankan juga dan  diambil dari kamu serta kesusahan itu akan dibuang dari kamu.

Kemudian, kamu akan diberi keselamatan dan kesentosaan serta akan  dilepaskan dari dosa dan maksiat dan dari kebergantungan kepada mahluk.  Kamu akan masuk ke dalam golongan hamba-hamba Allah yang dikasihi dan  dipelihara-Nya. Sedangkan jika kamu menjadi seorang yang dicari,  yaitu guru, maka janganlah kamu menyalahkan Allah manakala Allah  menimpakan kesusahan kepadamu, dan jangan pula kamu meragukan  kedudukanmu di sisi Allah, karena Allah hendak mengujimu supaya  kedudukanmu ditinggikan di sisi-Nya.

Allah hendak menaikkan kedudukanmu ke tingkat yang mulia dan tingkat Abdal. Apakah kamu ingin kedudukanmu direndahkan dari tingkat yang mulia dan tingkat Abdal ? Ataukah kamu ingin memakai pakaian yang lain selain pakaian mereka ? Sekalipun kamu rela dengan kedudukanmu yang rendah itu, tetapi Allah tidak rela.  Allah berfirman :  “Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu habis iddahnya, maka  janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal  suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara  yang ma’ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di  antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan  lebih suci, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2:232)

Allah hendak meninggikan, memuliakan dan membaikkan kamu, tetapi mengapa kamu tidak mau menerimanya ?  Mungkin kamu bertanya, mengapa hamba yang sempurna itu diuji, padahal  menurut sepengetahuan kamu bahwa ujian itu ialah untuk orang yang  mencintai Allah, yaitu orang yang dikasihi oleh Allah dan dicintai-Nya ?

Jawaban kami:  Dahulu, kami telah mengatakan aturannya dan kemudian kemungkinan perkecualiannya.  Nabi besar Muhammad SAW adalah orang yang paling dicintai Allah, tetapi beliaupun mendapat ujian yang paling berat.  Beliau pernah bersabda :  “Aku adalah orang yang paling takut kepada Allah, sehingga tidak ada orang yang lebih takut kepada Allah daripada aku. Aku mendapatkan penderitaan yang paling hebat, sehingga tidak ada orang  yang penderitaannya sama dengan penderitaanku. Pernah selama tigapuluh  hari tigapuluh malam aku tidak mendapatkan makanan walau hanya sebesar  yang dapat disembunyikan di bawah ketiak bilal.”

Sabda Nabi lagi : “Sesungguhnya kami dari golongan para Nabi adalah orang-orang yang  paling berat diuji, kemudian orang-orang yang berada di bawah peringkat  kami, kemudian orang-orang yang berada di bawah itu, dan begitulah  seterusnya.” Sabdanya lagi :   “Akulah orang yang paling baik di sisi Allah dan paling takut kepada-Nya daripada kamu sekalian.” Bagaimana bisa terjadi orang yang dicintai Allah itu diuji dan ditakutkan, padahal ia adalah hamba yang dicintai dan sempurna?  

Sebenarnya ujian itu bertujuan meninggikan derajat mereka di akhirat  kelak, karena derajat kehidupan akhirat itu tidak akan ditinggikan  kecuali melalui amal saleh di dalam kehidupan dunia ini. Dunia ini adalah ladang akhirat.  Amal saleh para Nabi dan wali, setelah melakukan perintah dan  meninggalkan larangan, adalah terdiri atas kesabaran, rela dengan suka  hati dan menyesuaikan diri dengan ujian.  Setelah itu, ujian itu  akan dihindarkan dari mereka, dan mereka akan mendapatkan karunia,  keridhaan dan kasih sayang Allah sampai mereka menemui Allah SWT. Wallohu a'lam.

المقالة الحادية السبعون   فـي الــمــريـــد والــمـــراد
قـال رضـي الله تـعـالى عـنـه و أرضـاه : لا يخلو إما أن تكون مريداً أو مراداً.
 فإن كنت مريداً فأنت محمل و حمال يحمل كل شديد و ثقيل، لأنك طالب و الطالب  مشقوق عليه حتى يصل إلى مطلوبه و يظفر بمحبوبه و يدرك مرامه، و لا ينبغي  لك أن تنفر من بلاء ينزل بك في النفس و المال و الأهل و الولد، إلى أن يحط  عنك الأعمال، و يزال عنك الأثقال، و يرفع عنك الآلام و يزال عنك الأذى و  الإذلال، فتصان عن جميع الرذائل و الأدران و الأوساخ و المهانات و الافتقار  إلى الخليقة و البريات، فتدخل في زمرة المحبوبين المدللين المرادين.
و  إن كنت مراداً فلا تتهمن الحق عزّ و جلّ في إنزال البلية بك أيضاً، و لا  تشكن في منزلتك و قدرك عنده عزّ و جلّ، لأنه قد يبتليك ليبلغك مبلغ الرجل، و  يرفع منزلتك إلى منازل الأولياء.
أتحب ما يحط منزلتك عن منازلهم و  درجاتك عن درجاتهم و أن تكون خلعتك و أنوارك و نعيمك دون ما لهم، فإن رضيت  أنت بالدون فالحق عزّ و جلّ لا يرضى لك بذلك . قال تعالى : }وَاللّهُ  يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ{. البقرة٢١٦ +٢٣٢.آل عمران٦٦.النور١٩.  يختار لك الأعلى و الأسنى و الأرفع و الأصلح و أنت تأبى.
فإن قلت: كيف يصلح ابتلاء المراد مع هذا النعيم و البيان مع أن الابتلاء إنما هو للمحب، و المدلل إنما هو المحبوب.
 يقال لك ذكرنا الأغلب أولاً و سمرنا بالنادر الممكن ثانياً.
 لا خلاف أن النبي صلى الله عليه و سلم كان سيد المحبوبين أشد الناس بلاء، و  قد قال صلى الله عليه و سلم ( لقد خفت في الله ما لا يخافه أحد، و لقد  أوذيت في الله لم يؤذه أحد، و لقد أتى علي ثلاثون يوماً و ليلة و ما لنا  طعام إلا شيء يواريه إبط بلال ) و قد قال صلى الله عليه و سلم ( إنا معاشر  الأنبياء أشد الناس بلاء ثم الأمثل فالأمثل ) و قد قال صلى الله عليه و سلم  ( أنا أعرفكم بالله و أشدكم منه خوفاً ) فكيف يبتلى المحبوب و يخوف المدلل  المراد و لم يكن ذلك إلا بما أشرنا إليه من بلوغ المنازل العالية في الجنة  لأن المنازل في الجنة لا تشيد و لا ترفع بالأعمال في الدنيا.
الدنيا  مزرعة الآخرة، و أعمال الأنبياء و الأولياء بعد أداء الأوامر و انتهاء  النواهي و الصبر و الرضا و الموافقة في حالة البلاء يكشف عنهم البلاء و  يواصلون بالنعيم و الفضل و الدلال و اللقاء أبد الآباد،   و الله أعلم.

LINK ASAL:
www.fb.com/notes/1346454698710668

www.fb.com/groups/piss.ktb/1279381528751319/
KAJIAN KITAB FUTUHUL GHAIB (BAGIAN 70)

KAJIAN KITAB FUTUHUL GHAIB (BAGIAN 70)

[Menyingkap Rahasia Ilahi] Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Al-Jailany ra

RISALAH KE-70
Mengapa kamu merasa sombong dengan perbuatanmu sendiri, bangga dengan dirimu sendiri dan mengharapkan ganjaran sambil mengatakan bahwa semua ini adalah karena kekuatan yang dikaruniakan Allah kepadamu, pertolongan-Nya dan idzin-Nya ?

Jika kamu bisa mengelakkan dosa dan noda, maka hal itu adalah karena pertolongan dan perlindungan Allah. Mengapa pula kamu tidak bersyukur kepada Allah atas pertolongan dan perlindungan-Nya? Dan mengapa pula kamu tidak menyadari bahwa kebiasaanmu menghindarkan dosa itu adalah karena karunia dan rahmat Allah? Mengapa kamu bangga dengan sesuatu yang bukan kepunyaanmu sendiri ?

Apabila kamu tidak mampu membunuh musuhmu tanpa pertolongan orang yang lebih gagah daripada kamu yang dapat membunuh musuhmu itu, yang kamu hanya menyelesaikan pembunuhan itu saja dan yang jika tanpa pertolongan orang yang gagah itu kamu pasti kalah, maka mengapa kamu merasa sombong dengan perbuatanmu itu?

Apabila kamu tidak dapat membelanjakan uangmu sendiri, kecuali jika ada seseorang yang pemurah, yang benar dan bisa diharapkan dapat menjaminmu dengan mengatakan bahwa seluruh uang yang kamu belanjakan itu akan digantinya, kamu baru berani membelanjakan uangmu itu, maka mengapa kamu merasa sombong dengan perbuatanmu itu?

Cara yang baik bagimu ialah bersyukur dan memuji penolongmu itu, yaitu Allah SWT. Pujilah selalu Allah. Segala kejayaanmu itu adalah dari Allah jua. Janganlah kamu mengatakan bahwa kejayaan itu dari dirimu sendiri, kecuali perkara dosa dan maksiat. Perkara dosa dan maksiat ini hendaklah kamu katakan datang dari dirimu sendiri. Diri itulah yang patut kamu salahkan, karena di situlah terletak kesalahan dan kejahatan.

Allah-lah yang menciptakan perbuatan dan tingkah lakumu itu, sedangkan kamu hanya tinggal menjalankan saja. Itulah sebabnya, ada orang-orang yang bijak di dalam ilmu ketuhanan berkata,: “Perbuatan itu akan datang dan kamu tidak akan dapat lari darinya.”

Nabi Muhammad SAW bersabda tentang hal ini,: “Perbuatlah perbuatan yang baik, dekatilah Allah dan perbaikilah dirimu. Sebab, setiap orang itu dimudahkan untuk mendapatkan apa yang telah diciptakan untuknya.”. Wallohu a'lam.

المقالة السبعون فـي الـشــكـر و الاعـتـراف
بـالـتـقـصـيـر قـال رضـي الله تـعـالى عـنـه و أرضـاه : كيف يحسن منك العجب في أعمالك و رؤية نفسك فيها و طلب الأعواض عليها، و جميع ذلك بتوفيق الله تعالى و عونه و قوته و إرادته و فضله، و إن كان ترك معصيته فبعصمته و حفظه و حميته. أين أنت من الشكر على ذلك و الاعتراف بهذه النعم التي أولاكها، ما هذه الرعونة و الجهل، تعجب بشجاعة غيرك و سخائه و بذل ماله إذا لم تكن قاتلاً بعودك إلا بعد معاونة شجاع ضرب في عدوك ثم تمنيت قتله، لولاه كنت مصروعاً مكانه و بدله، و لا باذلاً لبعض مالك إلا بعد ضمان صادق كريم أمين ضمن لك عوضه و خلفه، لولا قوله و طمعك فيما وعد لك و ضمن لك ما بذلت حبة منه، كيف تعجبك بمجرد فعلك. أحسن حالك الشكر و الثناء على المعين و الحمد لله الدائم و إضافة ذلك إليه في الأحوال كلها إلا الشر و المعاصي و اللوم، فإنك تضيفها إلى نفسك و تنسبها إلى الظلم و سوء الأدب و تتهمها به، فهي أحق بذلك لأنها مأوى لكل شر و أمارة بكل سوء و داهية وإن كان هو عزّ و جلّ خالقك و خالق أفعالك مع كسبك، أنت الكاسب و هو الخالق كما قال بعض العلماء بالله عزّ و جلّ : تجئ و لا بد منك، و قوله صلى الله عليه و سلم : ( اعملوا و قاربوا و سددوا فكل ميسر لما خلق له ) .والله أعلم

LINK ASAL:
www.fb.com/notes/196355227053960/

www.fb.com/groups/piss.ktb/1265499230139549/
KAJIAN KITAB FUTUHUL GHAIB (BAGIAN 69)

KAJIAN KITAB FUTUHUL GHAIB (BAGIAN 69)

[Menyingkap Rahasia Ilahi] Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Al-Jailany ra

RISALAH KE-69
Janganlah meminta kepada Allah SWT selain ampunan atas segala dosa yang telah lalu, perlindungan dari segala dosa yang sekarang dan dosa yang akan datang, kekuatan untuk ta’at kepada Allah, kekuatan untuk dapat melakukan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, dapat rela dengan senang terhadap kesusahan dan ketentuan takdir-Nya, dapat sabar di dalam menghadapi malapetaka, dapat mensyukuri karunia-Nya, dapat mati di dalam keadaan iman dan baik , serta dapat bersatu dengan golongan para Nabi, orang-orang besar, para syuhada dan orang-orang yang diridhai, karena inilah sebaik-baiknya rekan dan teman.

Janganlah kamu meminta kepada Allah perkara-perkara seperti dihindarkan dari kemiskinan dan kesusahan serta diberi kekayaan dan kesenangan. Tetapi, hendaklah kamu meminta rasa senang dengan apa yang telah ditentukan-Nya dan meminta perlindungan yang kekal untuk berada di dalam suasana dan keadaan yang telah ditentukan-Nya untukmu sampai kamu dipindahkan ke lain suasana dan keadaan atau ke lain keadaan yang berlawanan.

Sebab, kamu tidak mengetahui letak kebaikan. Di dalam kayakah atau miskinkah ?Di dalam kesusahankah atau di dalam kesenangankah ? Allah merahasiakan pengetahuan tentang itu kepada kamu. Dia saja yang mengetahui baik buruknya sesuatu perkara.

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab berkata,: “Keadaan yang aku lihat di pagi hari, tidak menjadi permasalahan bagiku, baik ia membawa apa yang aku sukai maupun tidak aku sukai, karena aku tidak tahu di mana letak kebaikan itu.” Ia mengatakan itu, karena ia ridha dengan apa saja yang diperbuat Allah dan berpuas hati dengan ketentuan dan pilihan Allah untuknya. Allah berfirman, : “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2:216).

Allah mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak baik, sedangkan kamu tidak mengetahuinya. Tetaplah tinggal dalam keadaan ini sampai keinginan hawa nafsumu musnah dan dirimu hancur, hina, dapat dikuasai dan ditaklukkan. Setelah itu, tujuan, keinginanmu dan semua yang wujud akan keluar dari dalam hatimu dan tidak ada yang tinggal lagi di dalamnya, kecuali Allah saja. Ketika itu, hatimu akan dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah, dan niatmu untuk mencapai-Nya akan menjadi ikhlas. Setelah itu, dengan perintah-Nya, maka tujuan dan kehendakmu akan dikembalikan lagi kepadamu untuk menikmati dunia ini dan akhirat. Kemudian, semua ini akan kamu pinta dari Allah, dan kamu akan mencarinya di dalam kepatuhan kepada Allah dan bersesuaian dengan Allah SWT. Jika Dia memberikan karunia kepadamu, maka kamu bersyukur dan jika Dia menarik kembali karunia itu, maka kamu pun tidak berkecil hati dan tidak pula menyalahkan Allah.

Jiwa dan pikiranmu akan tenang dan damai, karena kamu mencarinya bukan dengan keinginan dan hawa nafsumu, lantaran hati kamu telah kosong dari keinginan dan hawa nafsumu itu, dan kamu tidak melayani hasratmu terhadap perkara-perkara ini, tetapi kamu semata-mata hanya mengikuti perintah Allah saja melalui doamu kepada-Nya. Semoga ketentraman dan kedamaian dilimpahkan kepadamu.

المقالة التاسعة والستون فـي الأمـر بـطـلـب الـمـغـفـرة و الـعـصـمـة و الـتـوفـيـق و الـرضـا و الـصـبـر مـن الله تـعـالـى قـال رضـي الله تـعـالى عـنـه و أرضـاه : لا تطلبنّ من الله شيئاً سوى المغفرة للذنوب السابقة و العصمة منها في الأيام الآتية اللاحقة، و التوفيق لحُسن الطاعة، و امتثال الأمر و الرضا بمر القضاء، و الصبر على شدائد البلاء، و الشكر على جزيل النعماء و العطاء، ثم الوفاة بخاتمة الخير، و اللحوق بالأنبياء و الصديقين و الشهداء و الصالحين و حسن أولئك رفيقاً و لا تطلب منه الدنيا و لا كشف الفقر و البلاء إلى الغناء و العافية، بل الرضا بما قسم و دبر، و اسأله الحفظ الدائم على ما أقامك فيه و أحلك و ابتلاك، إلى أن ينقلك منه إلى غيره و ضده، لأنك لا تعلم الخير في أيهما، في الفقر أو في الغناء، في البلاء أو في العافية، طوى عنك علم الأشياء و تفرد هو عزّ و جلّ بمصالحها و مفاسدها. فقد ورد عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه : لا أبالى على أي حال أصبح، على ما أكره أو على ما أحب، لأني لا أدرى الخير في أيهما. قال ذلك لحسن رضاه بتدبير الله عزّ و جلّ، و الطمأنينة على اختياره و قضائه. قال الله تعالى : }كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ{.البقرة216. كن على هذا الحال إلى أن يزول هواك و تنكسر نفسك فتكون ذليلة مغلوبة تابعة ثم تزول إرادتك و أمانيك، و تخرج الأكوان من قلبك و لا يبقى في قلبك شئ سوى الله تعالى، فيمتلئ قلبك بحب الله تعالى، و تصدق إرادتك في طلبه عزّ و جلّ فيرد إليك الإرادة بأمره بطلب حظ من الحظوظ دنيوية و أخروية، فحينئذ تسأله عزّ و جلّ بذلك و تطلبه ممتثلاً لأمره، إن أعطاك شكرته و تلبست به، و إن منعك لم تتسخط عليه و لم تتغير عليه في باطنك و لا تتهمه في ذلك ببخل، لأنك لم تكن طلبته بهواك و إرادتك، لأنك فارغ القلب عن ذلك غير مريد له، بل ممتثلاً لأمره بالسؤال و السلام . والله أعلم

LINK ASAL:
www.fb.com/notes/196355227053960/5010

www.fb.com/groups/piss.ktb/1265264563496349/
KAJIAN KITAB: FUTUHUL GHAIB (Risalah ke-67)

KAJIAN KITAB: FUTUHUL GHAIB (Risalah ke-67)

[Menyingkap Rahasia Ilahi] Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Al-Jailany ra

RISALAH KE-67
Apabila kamu telah dapat membunuh dan mematikan dirimu, maka Allah akan  menghidupkannya kembali, ia akan melawan lagi dan minta dipuaskan hawa  nafsunya serta menikmati perkara-perkara yang haram dan yang  diperbolehkan. Oleh karena itu, kamu masih perlu berjuang lagi  dan mengawasi diri kamu itu. Dengan demikian, balasan akan dituliskan  untukmu dalam setiap kali kamu berjuang.
Inilah yang disabdakan oleh Nabi SAW : Jihad besar ini ialah berjuang melawan hawa nafsu diri  sendiri yang tiada putus-putusnya, berjuang melawan kehendak dan  keinginan untuk melakukan dosa dan maksiat. “Kita baru saja kembali dari jihad yang kecil (perang melawan  orang-orang kafir) dan masuk kepada jihad yang besar (melawan hawa  nafsu).”

Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya supaya menyembah Dia saja. Ini  memerlukan perlawanan terhadap ego atau diri beserta kehendak dan  kemauannya yang selalu bertentangan dengan kehendak Allah. Demikianlah,  perjuangan itu selalu ada sampai datang ajal. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah di dalam firman-Nya :   “… dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)” (QS 15:99)

Jika ada pertanyaan : “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa  nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan  (kepadanya).” (QS 53:3-4)”. “Bagaimana Nabi bisa kurang berkhidmat kepada Allah, sedangkan ia tidak  mempunyai keinginan dan meluluhkan hawa nafsu badaniah ?
Jawabannya ialah : bahwa Allah  menyatakan ini kepada Rasul-Nya dimaksudkan untuk mengiyakan atau  menekankan perkara ini, agar menjadi ikutan bagi seluruh umatnya di  sepanjang masa.  Allah Yang Maha Agung memberikan kekuasaan  kepada Rasul-Nya untuk mengontrol dirinya dan tidak bersusah payah lagi  beliau melawan diri atau egonya sendiri, dan ini membedakan beliau dari  para pengikutnya.  Apabila si mu’min terus berjuang melawan dirinya sampai akhir hayatnya, maka Allah akan memberinya surga, sebagaimana firman-Nya ini :  “Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS 79:41)

Tetapi, orang-orang yang kafir dan munafik serta orang-orang yang  berbuat dosa dan maksiat, bila mereka berhenti melawan diri mereka  sendiri dan keinginan mereka terhadap dunia ini, mereka mengikuti iblis  dan setan, bercampur baur dengan berbagai kekufuran dan syirik, dan  bergelimang dosa dan noda sampai nyawa mereka bercerai dengan badan  mereka, tanpa masuk Islam dan bertobat, Apabila Allah telah memasukkan dia ke dalam surga itu, maka jadilah  surga itu sebagai tempat beristirahatnya yang kekal dan abadi. Ia tidak  akan dipindahkan ke tempat lain atau ke dunia lagi. Dari masa ke masa,  semakin bertambah banyak dan baiklah karunia Allah yang diterimanya, ini  juga kekal dan tidak ada putus-putusnya, sebagaimana ia berjuang  melawan hawa nafsunya di dunia ini dengan tiada henti-hentinya,  maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam neraka yang penuh dengan azab dan siksa,  sebagaimana firman Allah,: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan  Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus,  Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lainnya, supaya mereka  merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”  (QS 4:56)
“Maka jika kamu tidak dapat membuatnya, peliharalah dirimu dari api  neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi  orang-orang kafir.” (QS 2:24)

Allah menjadikan neraka sebagai  tempat tinggal mereka. Di situ, kulit, tulang dan daging mereka akan  dibakar hangus oleh api neraka. Kemudian, kulit, tulang dan daging  mereka itu akan diganti dengan yang baru, yang akan dibakar lagi.

Allah SWT berfirman, : Allah berbuat demikian itu lantaran mereka telah  bersatu dengan diri mereka sendiri dan dengan keinginan mereka terhadap  dunia di dalam perkara berbuat dosa. Dengan demikian,  merekapun selalu bertambah syukur atas karunia Allah itu. Inilah balasan  yang mereka dapati dari hasil perjuangannya yang tiada henti-hentinya  di dunia dahulu, ketika mereka melawan kehendak dan keinginan hawa nafsu  angkara murka. mereka agar bersesuaian dengan kehendak Allah.  Oleh karena itu, kulit dan  daging mereka terus-menerus hangus terbakar, kemudian diganti dengan  yang baru, setelah itu dibakar lagi dan diganti lagi dengan yang baru.  Demikianlah, dengan tidak ada putus-putusnya. Mereka senantiasa berada  dalam azab dan siksa yang pedih.

Sebaliknya, para penghuni surga  senantiasa menikmati karunia Allah yang baru, terus berganti baru dan  bertambah-tambah dengan tidak ada putus-putusnya. Inilah apa yang disabdakan oleh Nabi besar Muhammad SAW yang maksudnya kurang lebih, “Dunia ini ialah ladang akhirat.”  

المقالة السابعة والستون  فـي جـهـاد الـنـفـس و تـفـصـيـل كـيـفـيـتـه
فإن قيل : كيف تأبى نفس  رسول الله صلى الله عليه وسلم العبادة و هو عليه والصلاة و السلام لا هوى  له وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى * إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ  يُوحَى.النجم3–4.  فيقال أنه عزَّ و جلَّ خاطب نبيه صلى الله عليه وسلم  ليتقرر به الشرع فيكون عاماً بين أمته إلى أن تقوم الساعة. ثم إن الله عزَّ  و جلَّ أعطى نبيه عليه الصلاة و السلام القوة على النفس و الهوى، كيلا  يضراه و يحوجاه إلى المجاهدة، بخلاف أمته، فإذا دام المؤمن على هذه  المجاهدة إلى أن يأتيه الموت و يلحق بربه عزَّ و جلَّ بسيف مسلول ملطخ بدم  النفس و الهوى أعطاه ما ضمن له من الجنة، لقوله عزَّ و جلَّ : وَأَمَّا  مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى * فَإِنَّ  الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى.النتزعات40–41. فإذا أدخله الجنة و جعلها داره و  مقره و مصيره، أمن من التحويل عنها و الانتقال إلى غيرها و العودة إلى دار  الدنيا جدد له كل يوم و كل ساعة من أنواع النعيم و تغير عليه أنواع الحال و  الحلى إلى ما لا نهاية و لا غاية و لا نفاد، كما جدد في الدنيا كل يوم و  كل ساعة و لحظة مجاهدة النفس و الهوى.
قـال رضـي الله تـعـالى عـنـه و أرضـاه : كلما جاهدت نفسك و غلبتها و  قتلتها بسيف المخالفة أحياها الله، و نازعتك و طلبت منك الشهوات و اللذات  الجناح منها و المباح، لتعود إلى المجاهدة ليكتب لك ثواباً دائماً، و هو  معنى قول النبي صلى الله عليه وسلم : ( رجعنا من الجهاد الأصغر إلى الجهاد  الأكبر ) أراد مجاهدة النفس لدوامها و استمرارها على الشهوات و اللذات، و  إنهماكها في المعاصي، و هو معنى قوله عزَّ و جلَّ :وَاعْبُدْ رَبَّكَ  حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ.الحجر99. أمر الله عزَّ و جلَّ لنبيه صلى  الله عليه وسلم بالعبادة و هي مخالفة النفس، لأن العبادة كلها تأباها النفس  و تريد ضدها إلى أن يأتيه اليقين يعنى الموت.

و أما الكافر و المنافق و العاصي  لما تركوا مجاهدة النفس و الهوى في الدنيا و تابعوها، و وافقوا الشيطان  تمرجوا في أنواع المعاصي من الكفر و الشرك و ما دونهما حتى أتاهم الموت من  غير الإسلام و التوبة، أدخلهم الله النار التي أعدت  للكافرين في قوله   عزَّ و جلَّ : وَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ.آل  عمران131. فإذا أدخلهم فيها و جعلها مقرهم و صيرهم، فأحرقت جلودهم و لحومهم  جدد لهم عزَّ و جلَّ جلوداً و لحوماً كما قال عزَّ و جلَّ : كُلَّمَا  نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُوداً غَيْرَهَا.النساء56. يفعل  عزَّ و جلَّ بهم ذلك كما وافقوا أنفسهم و أهواءهم في الدنيا في معاصيه عزَّ  و جلَّ ، فأهل النار تجدد لهم كل وقت جلود و لحوم لإيصال العذاب و الآلام  إليهم. و سبب ذلك مجاهدة النفس و عدم موافقتها في دار الدنيا و هذا معنى  قول النبي صلى الله عليه وسلم : ( الدنيا مزرعة الآخرة ).    والله أعلم

LINK ASAL:

www.fb.com/groups/piss.ktb/1263950400294432/
KAJIAN KITAB FUTUHUL GHAIB (BAGIAN 65)

KAJIAN KITAB FUTUHUL GHAIB (BAGIAN 65)

[Menyingkap Rahasia Ilahi] Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Al-Jailany ra

RISALAH KE-64
Mengapa kamu marah kepada Allah lantaran doamu lambat diterima-Nya ?  Kamu mengatakan bahwa kamu telah dilarang meminta kepada orang dan disuruh meminta kepada Allah saja.  Kamu memohon kepada-Nya, tetapi Dia tidak memperkenankan permohonanmu. 

Inilah jawabanku untukmu :  “Apakah kamu seorang yang merdeka atau seorang budak ?  Jika kamu mengatakan bahwa kamu itu seorang yang merdeka, maka itu menandakan bahwa kamu adalah seorang kafir. 

 Tetapi, jika kamu mengatakan bahwa kamu adalah budak, maka aku akan bertanya padamu,: ‘Apakah kamu akan menyalahkan tuanmu sendiri lantaran ia terlambat  memenuhi permintaanmu, ragu tentang kebijaksanaan dan rahmatnya kepadamu  dan kepada seluruh mahluk dan ragu tentang ilmunya yang mengetahui  segala perkara ? Atau, apakah kamu tidak menyalahkan Allah ?   Jika kamu tidak menyalahkan-Nya dan mengakui kebijaksanaan-Nya di dalam  melambatkan penerimaan doamu itu, maka wajiblah kamu bersyukur  kepada-Nya, karena Dia telah membuat peraturan yang sebaik-baiknya  untukmu, memberikan faidah kepadamu dan menjauhkanmu dari mudharat.   

Jika kamu menyalahkan Tuhan dalam hal ini, maka kamu adalah seorang  yang kafir. Sebab, dengan menyalahkan-Nya itu berarti kamu menganggap  Tuhan tidak adil, padahal Dia Maha Adil dan sekali-kali tidak dholim  terhadap hamba-hamba-Nya. Mustahil jika Dia itu tidak adil. Maha Suci  Dia dari sifat-sifat yang tercela.  Ketahuilah, bahwa Dia itu  adalah Tuhanmu yang memiliki segalanya. Dia mengawasi segalanya. Dia  melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. 

 Oleh karena itu, istilah  tidak adil dan dholim tidak berlaku bagi Allah. Orang yang dholim itu  adalah orang yang mengganggu kepunyaan orang lain tanpa seijinnya.  Mungkin kamu sendiri yang dholim, bukan Allah yang dholim. Maka,  janganlah kamu menyalahkan-Nya dalam perbuatan-Nya yang tampak melalui  kamu, walaupun itu tidak kamu sukai dan tidak sesuai dengan kehendakmu,  dan meskipun pada lahirnya membahayakan kamu. Kamu wajib bersyukur,  bersabar dan ridha dengan Allah.  

Janganlah kamu merasa kesal dan menyalahkan Dia, karena mungkin hal itu akan memalingkan kamu dari jalan Allah. Kamu wajib selalu melakukan shalat dengan ikhlas, berbaik sangka  terhadap Allah, percaya kepada janji-janji-Nya, men-tauhid-kan-Nya,  menjauhi larangan-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan bersikap seperti  orang mati ketika Dia memanifestasikan takdir dan perbuatan-Nya  terhadapmu. Jika hendak menyalahkan juga dan terpaksa berbuat  demikian, maka salahkanlah dirimu sendiri yang berisikan iblis dan  ingkar kepada Allah Yang Maha Kuasa. 

 Lebih baik kamu mengatakan bahwa diri kamu yang dholim dan bukan Allah yang dholim. Oleh karena itu, berhati-hatilah. Janganlah kamu benar-benar menuruti dirimu sendiri dan ridha dengan  perbuatan dan perkataannya dalam semua keadaan, karena ia adalah musuh  Allah dan musuh kamu. Ia adalah sahabat musuh Allah dan musuh kamu,  yaitu setan yang dilaknat. 

Takutlah kamu kepada Allah. Berwaspadalah dan berhati-hatilah. Larilah dari musuhmu ! Salahkanlah dirimu sendiri.  Katakanlah bahwa dirimulah yang dholim itu. Dan katakanlah kepadanya ayat Allah ini :  “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ?” (QS 4:147), dan ayat ini,:  “(Akan dikatakan kepadanya), “Yang demikian itu, adalah disebabkan  perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya  Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya.”” (QS 22:10), dan ayat ini lagi,:  “Sesungguhnya Allah tidak berbuat dholim kepada manusia sedikitpun,  akan tetapi manusia itulah yang berbuat dholim kepada diri mereka  sendiri.” (QS 10:44). 

Bacakanlah kepada dirimu ayat-ayat ini dan ayat-ayat lainnya yang berkenaan dengan hal ini,  dan juga hadits Nabi SAW. : Perangilah dirimu sendiri karena Allah. Lawanlah dan bunuhlah dirimu itu. Jadilah tentara Allah dan panglima perang-Nya. Karena diri itu adalah musuh Allah yang paling besar di antara musuh-musuh-Nya. Allah berfirman kepada Daud yang kurang lebih maksudnya ialah : “Hai  Daud, buanglah hawa nafsumu, karena tidak ada yang melawan-Ku dalam  kepunyaan-Ku, melainkan hawa nafsu manusia.” 

 المقالة الخامسة والستون  فـي الـنـهـي عـن الـتـســخـط عـلـى الله فـي تـأخـيـر إجـابـة الـدعـاء
  قـال رضـي الله تـعـالى عـنـه و أرضـاه : ما هذا التسخط على ربك عزَّ و  جلّ من تأخير إجابة الدعاء؟؟ تقول حرم على السؤال للخلق و أوجب على السؤال و  أنا أدعوه و هو لا يجبيبنى فيقال لك أحر أنت أم عبد فإن قلت أنا حر فأنت  كافر وغن قلت أنا عبد لله، فيقال لك أمتهم أنت لوليك في تأخير إجابة دعائك و  شاك في حكمته و رحمته بك و بجميع خلقه وعلمه بأحوالهم أو غير متهم له عزَّ  و جلّ ؟؟ فإن كنت غير متهم له و مقر بحكمته و إرادته و مصلحته لك و تأخير  ذلك فعليك بالشكر له عزَّ و جلّ، لأنه اختار لك الأصلح و النعمة و دفع  الفساد، و إن كنت متهماً له في ذلك فأنت كافر بتهمتك له، لأنك بذلك نسبت له  الظلم و هو ليس بظلام للعبيد، لا يقبل الظلم و يستحيل عليه أن يظلم إذ هو  مالكك و مالك كل شئ فلا يطلق عليه اسم الظالم، و إنما الظالم من يتصرف في  ملك غيره بغير إذنه فانسد عليك سبيل التسخط عليه في فعله فيك بما يخالف  طبعك و شهوة نفسك و إن كان في الظاهر مفسدة لك.
 فعليك بالشكر و الصبر و الموافقة، و ترك السخط و التهمة و القيام مع رعونة النفس و هواها الذي يضل عن سبيل الله.
  وعليك بدوام الدعاء و صدق الالتجاء، و حسن الظن بربك عزَّ و جلّ، و انتظار  الفرج منه، و التصديق بوعده، و الحياء منه، و الموافقة لأمره، و حفظ  توحيده و المسارعة إلى أداء أوامره، و التماوت عن نزول قدره بك و بفعله  فيك، و إن كان لابد أن تتهم و تسئ الظن فنفسك الأمارة بالسوء العاصية لربها  عزَّ و جلَّ أولى بهما، و نسبتك الظلم إليها أحرى من مولاك. فاحذر  موافقتها و موالاتها، و الرضى بفعلها و كلامها في الأحوال كلها، لأنها عدوة  الله و عدوتك، و موالية لعدو الله و عدوك الشيطان الرجيم، هي خليلته و  جاسوسته و مصافيته، الله الله ثم الله، الحذر الحذر النجا النجا، أتهمها و  أنسب الظلم إليها و اقرأ عليها قوله عزَّ و جلّ :مَّا يَفْعَلُ اللّهُ  بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ.النساء147. وقوله عزَّ و جلّ :  إِنَّ اللّهَ لاَ يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئاً وَلَـكِنَّ النَّاسَ  أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ.يونس44. و غيرها من الآيات و الأخبار.
 كن  مخاصماً لله على نفسك مجادلاً لها عنه عزَّ و جلّ، و محارباً و سيافاً و  صاحب جنده و عسكره، فإنها أعدى عدو الله عزَّ و جلّ، قال الله تعالى : " يا  داود أهجر هواك فإنه لا منازع ينازعني في ملكي غير الهوى ".  والله أعلم

LINK ASAL:
www.fb.com/notes/1338538016169003
www.fb.com/groups/piss.ktb/1262336213789184/